Metromedannews.id, Medan - Pengembangan Bus Rapid Transit (BRT) Mebidang menjadi salah satu langkah penting dalam upaya membenahi sistem transportasi publik di kawasan Medan, Binjai, dan Deli Serdang. Namun, di tengah pembangunan infrastruktur dan pengadaan armada bus listrik, tantangan transportasi perkotaan tidak hanya terletak pada penyediaan kendaraan, tetapi juga pada bagaimana layanan tersebut dapat menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat sehari-hari, Rabu (28/10/2026).
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara pada September 2026 menyampaikan bahwa BRT Mebidang masih berada dalam tahap uji coba dengan operasional penuh direncanakan mulai 8 Desember 2026. Sistem ini dikembangkan untuk memperluas akses transportasi massal sekaligus mendukung upaya pengurangan kemacetan dan emisi di kawasan perkotaan. Dengan demikian, fase saat ini menjadi momentum penting untuk menilai kesiapan layanan sebelum pengoperasian penuh.
Baca Juga:
Dana Desa 2025, Pemdes Pasar Sorkam Bangun Jalan Rabat Beton
Bagi masyarakat, keberhasilan transportasi publik tidak cukup diukur dari jumlah bus yang tersedia atau pembangunan halte. Aspek seperti keterjangkauan tarif, ketepatan waktu, konektivitas antarrute, kemudahan berpindah moda, serta akses menuju halte juga menentukan apakah angkutan umum dapat menjadi pilihan utama dalam perjalanan sehari-hari.
Di Medan, pengembangan transportasi publik perlu dilihat dalam konteks kebutuhan perjalanan yang menghubungkan kawasan permukiman, pusat pendidikan, tempat kerja, pusat perdagangan, dan wilayah penyangga kota. Konektivitas antara Medan, Binjai, dan Deli Serdang menjadi penting karena mobilitas masyarakat tidak selalu berhenti pada batas administratif satu daerah.
Salah satu pertanyaan yang perlu dijawab adalah sejauh mana pengembangan BRT mampu membuat perjalanan masyarakat lebih praktis dan dapat diandalkan. Apabila perpindahan antar rute masih menyulitkan, akses pejalan kaki menuju halte belum memadai, atau waktu tempuh sulit diprediksi akibat kepadatan lalu lintas, masyarakat dapat tetap menghadapi hambatan ketika menggunakan transportasi umum.
Baca Juga:
Banjir Menggenangi Desa Hanjalipan Sebabkan Mobilitas Terhambat
Tantangan lainnya adalah keberlanjutan pembiayaan dan koordinasi antarpemerintah. Layanan yang menghubungkan beberapa wilayah membutuhkan pembagian tanggung jawab yang jelas, pengelolaan operasional yang konsisten, serta dukungan anggaran yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Karena itu, pembangunan fisik perlu berjalan seiring dengan perencanaan layanan dan evaluasi kinerja yang transparan.
Persoalan tersebut menjadi relevan untuk dibahas melalui karya jurnalistik yang menempatkan pengalaman masyarakat sebagai bagian utama pemberitaan. Data mengenai waktu tunggu, waktu tempuh, jumlah penumpang, keterjangkauan tarif, serta kondisi fasilitas perlu dipadukan dengan pengalaman pengguna dan keterangan dari instansi terkait agar perkembangan transportasi Medan dapat dinilai secara lebih menyeluruh.
Sorotan Juara 1 Olimpiade Jurnalis Muda 2026
Isu ini juga menjadi perhatian Muaz Alfattah Fadhani, mahasiswa Ilmu Komputer Universitas Sumatera Utara (USU) yang meraih Juara 1 Olimpiade Jurnalis Muda 2026 melalui karya berjudul "Dari Halte ke Harapan. Jalan Panjang Mebidang Menuju Kota Rendah Emisi".
Karya tersebut mengkaji perkembangan BRT Mebidang dan peluang transportasi publik rendah emisi melalui observasi lapangan, wawancara, analisis data, infografis, dan perspektif publik. Fokus ini mempertemukan persoalan mobilitas perkotaan dengan kepentingan masyarakat untuk memperoleh layanan transportasi yang layak dan berkelanjutan.
Bagi Muaz, latar belakang ilmu komputer dan ketertarikannya pada kebijakan publik, lingkungan, serta jurnalisme menjadi konteks dalam mengamati persoalan perkotaan. Ia juga mendirikan Transgo Medan, komunitas pemuda yang berfokus pada edukasi publik, advokasi, dan kampanye mobilitas berkelanjutan.
"Pengembangan transportasi rendah emisi pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang peralihan teknologi kendaraan, tetapi juga tentang kemampuan sistem transportasi melayani masyarakat secara efektif. Bus listrik dapat menjadi bagian dari upaya dekarbonisasi, tetapi manfaatnya bagi warga perlu dilihat bersama dengan kualitas layanan, integrasi jaringan, dan kemudahan akses," tulis Muaz dalam karyanya.
Menjelang target operasional penuh BRT Mebidang, perhatian publik perlu diarahkan pada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah sistem yang dibangun mampu memberikan pilihan perjalanan yang terjangkau, nyaman, aman, dan dapat diandalkan bagi masyarakat?
Jawaban atas pertanyaan tersebut membutuhkan evaluasi berdasarkan data, keterbukaan informasi, serta keterlibatan pengguna transportasi. Dengan menempatkan kebutuhan masyarakat sebagai ukuran utama, pengembangan BRT Mebidang dapat menjadi kesempatan untuk mendorong pembenahan transportasi publik secara lebih luas di Medan dan kawasan sekitarnya.
Tentang Muaz Alfattah Fadhani
Muaz Alfattah Fadhani merupakan mahasiswa Ilmu Komputer Universitas Sumatera Utara yang memiliki minat pada jurnalisme, riset, kebijakan publik, dan pembangunan berkelanjutan. Ia meraih Juara 1 Olimpiade Jurnalis Muda 2026 melalui karya mengenai transportasi publik rendah emisi di kawasan Mebidang dan mendirikan Transgo Medan, komunitas pemuda yang berfokus pada mobilitas berkelanjutan.
[ REDAKTUR : ROI ]